Sila klik link di bawah ini. Terima kasih :)

Dengarkanlah...

Tuesday, July 27, 2010 0 comments

Malam Nisfu Sya'ban

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).

Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata

“Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini,

maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.

Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Monday, July 12, 2010 0 comments

Hikmah Isra Mi'raj


Subhaanalladzii asraa bi ‘abdihii lailam minal masjidil haraami ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahuu li nuriyahuu min aayaatinaa innahuu huwas samii’ul bashiir

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al Israa’, 17 : 1)

Momen peringatan hari-hari besar Islam seringkali diperingati, namun terkadang karena kurang pada tempatnya dalam menempatkan posisi akal untuk memahami hal yang bersifat ghaib, maka seringkali kita akhirnya tidak bisa memetik hikmahnya. Padahal, masalah keimanan itu selalu berkaitan dengan hal yang ghaib. Allah SWT berfirman: “Alladziina yu’minuuna bil ghaib” (Al Baqarah, 2 : 3)


Dinamakan sesuatu itu ghaib manakala tidak bisa direkam oleh indra kita, yang karenanya tidak bisa diolah oleh akal. Sebab fungsi akal adalah mengolah data-data yang sempat direkam oleh indra kita. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, didengar dan tidak bisa dirasa, tentu tidak akan bisa dimengerti oleh akal.

Maka dari itu, peristiwa Isra Mi’raj ini termasuk dalam perkara yang ghaib yang harus diterima oleh keimanan terlebih dahulu sebelum akal. Ketika peristiwa Isra Mi’raj terjadi, maka pada saat itu sempat menghebohkan, bahkan sempat pula melahirkan tuduhan orang-orang musyrikin yang semakin gencar yang menuduh Nabi Muhammad Saw itu adalah orang gila.

Hal ini juga sempat mempengaruhi orang-orang Islam pada saat itu. Ketika berita ini sampai kepada Abu Bakar Ash Shidiq Ra dan ummat meminta bagaimana pandangan Beliau, maka hanya satu pertanyaan yang Beliau ajukan kepada para sahabat, “dari mana kalian mendengar terjadinya peristiwa ini ? Kata para sahabat, kami mendengar dari Rasulullah Saw. Lalu Abu Bakar Ra mengatakan, kalau dalam hal ini yang mengatakan Rasulullah Saw, maka kalian tinggal meyakininya saja.

Kendati sudah jelas masalah Isra Mi’raj ini berkaitan dengan masalah keimanan, namun kita tetap masih saja bisa menyaksikan tidak sedikit di antara saudara-saudara kita yang tertarik untuk tetap mempersoalkan peristiwa Isra Mi’raj ini dengan pendekatan akal. Sebenarnya tidaklah salah sepenuhnya, tetapi karena kurang tepatnya kita dalam menempatkan posisi akal. Maka seringkali diskusi-diskusi atau seminar-seminar yang diselenggarakan ini tidak mencapai yang diharapkan.

Hal ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa manusia selaku makhluk sosial harus mengadakan hubungan atau komunikasi yang baik dengan sesama makhluk Allah di muka bumi; sedang sebagai hamba Allah, manusia wajib melakukan hubungan yang baik dengan Allah swt. yang telah menciptakannya dan telah menganugerahinya berbagai macam keni'matan yang diperlukannya selama hidupnya di dunia. Hubungan baik dengan sesama makhluk dan dengan Sang Pencipta akan membawa ketenangan dan ketenteraman jiwa yang menjadi faktor penentu bagi kebahagiaan hidup yang sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Saturday, July 3, 2010 2 comments

8 Kebohongan Ibuku


(sebuah cerita yang tak dapat aku lupakan.....)

1. Cerita ini dimulai ketika aku masih kecil, saya terlahir sebagai anak lelaki dari sebuah keluarga miskin. Yang terkadang untuk makan pun kita sering kekurangan. Kapanpun ketika waktu makan, ibu selalu memberikan bagian nasi nya untuk saya. Ketika beliau mulai memindahkan isi mangkuknya ke mangkuk saya, dia selalu berkata "Makanlah nasi ini anak ku. Aku tidak lapar"

Ini adalah kebohongan Ibu yang pertama.

2. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, dengan tekunnya ibu menggunakan waktu luangnya untuk memancing di sungai dekat rumah kami, dia berharap jika dia mendapatkan ikan, dia dapat memberikan aku sedikit makanan yang bergizi untuk pertumbuhanku. Setelah memancing, dia akan memasak ikan tersebut menjadi sup ikan segar yang meningkatkan selera makanku. Ketika aku memakan ikan tersebut, ibu akan duduk disebelah ku dan memakan daging sisa ikan tersebut, yang masih tersisa pada tulang ikan yang telah aku makan. Hatiku tersentuh sewaktu melihat hal tersebut, aku menggunakan suduku dan memberikan potongan ikan yang lain kepadanya. Tetapi dia langsung menolaknya dengan segera dan mengatakan " Makanlah ikan itu nak, mak tidak berapa suka ikan tu"

Itu adalah kebohongan ibu yang kedua.

3. Kemudian, ketika aku berada di bangku sekolah menengah, untuk membiayai pendidikanku, ibu pergi ke sebuah kedai kain dan menjual kain yang dijahit ibu. Dengan kerajinan ibu tersebut menghasilkan sejumlah wang untuk memenuhi keperluan kami. Ketika musim semi datang, aku terbangun dari tidurku dan melihat ibuku yang masih terjaga, dan ditemani cahaya lilin kecil dan dengan ketekunannya dia melanjutkan pekerjaannya menyulam. Aku berkata "Ibu, tidurlah, sekarang sudah malam, besok pagi kamu masih harus pergi bekerja." Ibu tersenyum dan berkata "Pergilah tidur, sayang. Mak tak letih."

Itu adalah kebohongan ibu yang ketiga.

4. Pada saat Ujian Penilaian Sekolah Rendah (UPSR), ibu meminta izin dari tempat dia bekerja hanya untuk menemaniku. Pada saat siang hari dan matahari terasa sangat menyengat, dengan tabah dan sabar ibu menugguku dibawah terik sinar matahari untuk beberapa jam lamanya. Dan setelah loceng berbunyi, yang menandakan waktu ujian telah berakhir, Ibu dengan segera menyambutku dan memberikan ku segelas teh yang telah beliau siapkan sebelumnya dalam botol air mineral. Sedapnya teh terasa tidak dapat menandingi kasih sayang dari Ibu, yang amat sangat. Melihat ibu menutup botol tersebut dengan rasa haus, langsung aku memberikan gelasku dan memintanya untuk minum juga. Ibu berkata "Minumlah, nak. Mak tak haus!"

Itu kebohongan ibu yang keempat.


5. Setelah kematian ayahku yang disebabkan oleh penyakit, Ibuku tersayang harus menjalankan peranannya sebagai orang tua tunggal. Dengan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, dia harus mencari wang untuk memenuhi keperluan kami sendiri. Hidup keluargaku menjadi semakin kompleks. Tak ada hari tanpa kesusahan. Melihat keadaan keluargaku pada saat itu yang semakin memburuk, ada seorang pakcik yang tinggal dekat rumahku datang untuk menolong kami, baik masalah yang besar dan masalah yang kecil. Tetangga kami yang lain yang tinggal dekat dengan kami melihat kehidupan keluarga kami sangat tidak beruntung. Mereka sering menasihati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang sangat keras kepala, tidak memperdulikan nasihat mereka, dia berkata " Saya tidak memerlukan cinta"

Itu adalah kebohongan ibu yang kelima.

6. Setelah saya menyelesaikan persekolahan dan mendapatkan sebuah pekerjaan. Itu adalah waktu bagi ibuku untuk beristirehat. Tetapi dia tetap tidak lemah, dia sangat bersungguh-sungguh pergi ke pasar setiap pagi, hanya untuk menjual beberapa sayuran untuk memenuhi keperluannya. Saya, yang bekerja di ibu kota, sering mengirimkan beliau sedikit wang untuk membantu memenuhi keperluannya, tetapi Ibu tetap keras kepala untuk tidak menerima wang tersebut. Ibu sering mengirim kembali wang tersebut kepadaku. Beliau berkata "Mak dah ada duit"

Itu adalah kebohongan Ibu yang keenam.


7. Setelah lulus dari program sarjana, kemudian saya melanjutkan pendidikan saya ke tingkat Master, saya mengambil pendidikan tersebut, dibiayai oleh sebuah perusahaan melalui sebuah program biasiswa, dari sebuah Universiti terkenal di London. Akhirnya saya bekerja pada perusahaan tersebut. Dengan gaji yang lumayan, saya berniat untuk mengambil Ibu dan mengajaknya untuk tinggal di London. Tetapi Ibuku tersayang tidak mau menyusahkan anak lelakinya, Ibu berkata kepadaku "Mak tak biasalah"

Itu adalah kebohongan Ibu yang ketujuh.

8. Sewaktu memasuki usia tuanya, ibu terkena kencing manis dan darah tinggi dan harus dirawat di hospital. Saya yang terpisah sangat jauh dan terpisah oleh lautan, segera pulang ke rumah untuk mengunjungi ibuku tersayang. Beliau terbaring lemah ditempat tidurnya selepas selesai menjalankan operation. Ibu yang terlihat sangat tua, menatapku dengan tatapan rindu yang dalam. Beliau mencuba memberikan senyum diwajahnya. Meskipun terlihat sangat menyayat hati kerana penyakit yang dideritainya. Itu sangat terlihat jelas bagaimana penyakit tersebut menghancurkan tubuh ibuku. Dimana beliau sangat terlihat lemah dan kurus. Saya mula mencucutkan airmata di pipi dan menangis. Hatiku sangat terluka, teramat sangat terluka, melihat ibuku dengan keadaan yang demikian. Tetapi ibu, dengan segala kekuatannya, berkata "jangan menangis, anakku sayang, Mak tidak sakit"

Itu adalah kebohongan ibu yang kelapan.

Setelah mengatakan kebohongannya yang ke lapan, Ibuku tersayang menutup matanya untuk selamanya!!!


p/s: Cerita ini adalah rekaan semata-mata. Tidak ada kaitan dengan yang hidup ataupun yang telah meninggal dunia. Hanya sebagai iktibar dan nasihat di mana kita perlu berbakti kepada orang tua kita walaupun mereka tidak memintanya. Berilah kasih sayang kepda ibu kita, kerana dialah yang melahirkan kita dan membesarkan kita dengan penuh susah payah dan kasih sayang. Pesanan ini adalah untuk diri saya sendiri dan juga anda semua.
Thursday, July 1, 2010 0 comments

Ayat-Ayat di Alam Perkahwinan


Sebelum Tidur

6 Minggu: Good Night sayang…mimpi indah2 yer…mmuuaahh!!!

6 Bulan: Tolong matikan lampu tu, silau lah.

6 Tahun: Sana la sikit...katil ni besar,bukan untuk awak sorg. Tido kalau tak mgepit tak boleh ke???!!!


Pakai Toilet

6 Minggu: Tak apa, bi masuk dulu k…abg tak kesah…

6 Bulan: awk…lama lagi ke? Sy dah tak tahan nie…

6 Tahun: grhh!! grhh!! (bunyi pintu digegar). Kalau ye pun nak bertapa, pergilah Gunung Ledang sana!


Balas SMS

6 Minggu: iye syg…jap lg abg smpai rumah…nnti abg singgah kedai belikan murtabak favourite bi yer...

6 Bulan: traffic jam lahh…

6 Tahun: K


Dating Process

6 Minggu: I love u syg…I love u so much! Mmuuaahhh!!!

6 Bulan: of course I love u…

6 Tahun: Iyalahhh…kalau saya tak cintakan awak, tak ada la saya nikah dgn awak!


Pulang Kerja

6 Minggu: Sayanggg…!!! Abg dah balik nie…

6 Bulan: I’m back!

6 Tahun: Masak apa hari nie???


Hadiah (Ulang Tahun)

6 Minggu: Bi, abg harap bi suka cincin yg abg belikan nie…

6 Bulan: Kita makan kat luar je ek…

6 Tahun: Awak nak apa lg? Saya tak ada duit la…pakai duit awak la dulu.


Telefon

6 Minggu: Baby…ada org nk berbual dgn bi nie..hehe..

6 Bulan: ehh…awak call…ingatkan siapa tadi.

6 Tahun: Ish! Ada fon bukan nak angkat!!...baik tak payah pakai fon!!


Masakan

6 Minggu: Pandai sayang abg ni masak…sedap la…tambah lagi…

6 Bulan: Kita makan apa malam nie?

6 Tahun: Aduh…lauk ni lagi. Saya makan kat kedai je lah…


Memaafkan

6 Minggu: Sudahlah, tak apa. Dah pecah pun…nanti abg beli yang lain ok.

6 Bulan: Hati-hati…nanti jatuh tu.

6 Tahun: Dah byk kali saya pesan, tak paham2 lg ke?


Baju Baru

6 Minggu: Aduhh bi…cantiknya bi pakai baju nie…

6 Bulan: Laa…bulan lepas baru beli, bulan ni beli baju baru lagi??

6 Tahun: Dah habis brapa ribu dah beli baju tu…Almari tu penuh dgn baju awak je. Yang dalam bakul tu bila nak lipat???


Merancang Holiday

6 Minggu: Bi cakap je nak g mana…nanti abg bawakan…

6 Bulan: Kita gi Mid Valley je lah…senang sikit…

6 Tahun: Jalan-jalan?? Buat habis duit je. Duduk rumah tak boleh ke?


TV

6 Minggu: Baby, kita nak tengok cerita apa malam nie?

6 Bulan: Tunggu iklan ek. Ada match ni, Argentina lwn Brazil.

6 Tahun: Jangan tukar2 boleh tak??! Ish! tak boleh tengok org senang sikit…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;